Header Ads

Masa Depan Adalah Kami

Kisah Sukses Pengusaha Batik Tulis Madura

Ny Surayyah sedang memberikan penjelasan kepada pengunjung tentang batik tulis madura pada pameran binaan Bank Mandiri di Mall Taman Anggrek Jakarta 
PAMEKASAN - Batik Madura telah dikenal keseluruh penjuru nusantara bahkan Internasional, dengan itulah seorang pengusaha asal Madura yang bernama lengkap Dra. Surayyah Ismail Kuddah seorang wanita kelahiran pamekasan, 1 Mei 1958 mengembangkan usaha miliknya SHORAYA BATIK di pamekasan Madura. Usaha yang dirintis Ny Surayyah sejak 1978 di Jalan Segara 67 Pamekasan Madura yang bernilai omset puluhan juta rupiah per bulan ini dibantu 10 orang karyawan, berkat kesuksesan ibu satu anak ini telah mengembangkan usahanya dengan membina 20 badan usaha yang sama telah merambah pemasarannya hingga mancanegara. Sejak umur 20 tahun dia memulai karir bisnisnya dengan memasarkan dikalangan teman-teman kampus dan dosen IKIP Malang, hasil dari penjualan batik tulis karya sendiri ini hingga dia dapat menyelesaikan pendidikannya sebagai seorang psikologi pendidikan. Pada tahun 2005 usaha miliknya mengalami kebangkrutan hingga tak satupun asset usaha yang tertinggal.
Dari keterpurukan itu kemudian Ny Surayyah banting stir untuk mencoba bisnis yang lain yaitu bisnis garmen tetapi dalam perjalanannya bisnis garmen membutuhkan tenaga yang cukup besar bahkan sering meninggalkan putri semata wayangnya sendirian dirumah yang sangat membutuhkan belaian kasih sayang seorang ibu karena harus sering kejakarta untuk mengambil bahan-bahan garmennya.
Kemudian Ny Surayyah pernah menjadi anggota Pegawai Negri Sipil di pamekasan Madura, oleh karena bakat yang didapat dari kedua orang tuanya adalah pebisnis batik maka menjadi seorang Pegawai Negri Sipil juga tidak bisa betahan lama, hingga pada akhirnya Ny Surayyah kedatangan seorang teman yang kebetulan karyawan Bank Mandiri Surabaya, teman tersebut menyarankan untuk tetap berbisnis Batik Tulis Madura buatannya sendiri karena produk buatannya itu sudah dikenal diseluruh penjuru negri bahkan mancanegara.
Dalam pembicaraan dengan teman itu “dari mana modalnya?” teman tersebut menyarankan untuk mengajukan pinjaman ke Bank Mandiri, pada tahun 2003 Ny Surayyah memberanikan diri untuk mengajukan peminjaman dana sebesar 50 juta dengan bunga 6 %, permohonan tersebut langsung dikabulkan pihak Bank Mandiri Surabaya. Sejak saat itu usaha Batik Tulis Madura milik Ny Surayyah semakin melebarkan sayap usahanya dengan membina 20 badan usaha Batik Tulis Madura yang didanai langsung oleh Bank Mandiri Surabaya.
Pinjaman ini sangat membantu Ny Surayyah dalam mengembangkan usaha Batik Tulis Madura miliknya. Kredit yang diberikan Bank Mandiri tidak hanya sebatas pinjaman saja, tetapi Bank Mandiri memberikan pelatihan dan membantu memasarkan Batik Tulis Madura usaha miliknya. Bahkan menurut pengakuannya pinjaman dari Bank Mandiri ini apabila jatuh tempo tidak dikenakan sangsi atau denda apapun, inilah yang membuat Ny Surayyah begitu nyaman menjalankan usahanya tanpa harus memikirkan denda apabila terlambat membayar angsuran.
Pada awal tahun 2011 PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) kembali mengucurkan kredit mikro hingga Rp6,5 triliun kepada lebih dari 545 ribu debitur, atau tumbuh 45 persen dibanding realisasi pengucuran kredit tahun 2010 yang sebesar Rp4,5 triliun dengan NPL (gros) terjaga di level empat persen.

Bank Mandiri mencatat portofolio kredit mikro terbesar pada sektor perdagangan, sebesar 49,5 persen dari total portofolio kredit mikro perseroan dan sektor jasa sekitar 40,4 persen. Kredit mikro merupakan kredit dengan besar plafon maksimal Rp100 juta, serta ditujukan untuk membiayai usaha-usaha mikro, termasuk usaha rumah tangga. Saat ini baru sekitar 30 persen dari total sekitar 16 juta usaha mikro dan kecil yang sudah menikmati fasilitas pembiayaan kredit mikro. Padahal sektor mikro ini dinilai sebagai bidang usaha yang menyerap banyak tenaga kerja dan terbukti mampu bertahan dalam menghadapi krisis ekonomi global yang terjadi beberapa waktu lalu.
Selain seorang pebisnis Batik Tulis Madura wanita yang lulusan IKIP Malang bergelar DRA ini juga seorang aktivis perlindungan anak dan perempuan di pamekasan Madura, oleh kepiawaiannya dalam berbicara dia sering diundang diberbagai stasiun radio, sekolah dan berbagai pelatihan tentang entrepreneursip di pemerintahan. Melalui media-media inilah Ny Surayyah semakin dikenal oleh kalangan pebisnis dan pemerintah sebagai seseorang yang tidak hanya sekedar pebisnis yang handal tetapi berkomitmen untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan Batik Tulis asli Madura.
Menurut Ny Soraya menjadi seorang pengusaha harus memiliki motivasi yang kuat, Sukses tidaknya seorang pengusaha ditentukan dirinya sendiri. Karena itu kiat sukses pengusaha berawal dari sebuah kemauan yang kuat, sikap yang pantang menyerah, mau menerima kritik, ulet, belajar dan usaha keras adalah modal awal dan utama seorang pengusaha sukses, namun ada satu yang terpenting yaitu kekuatan doa. Yakinlah selalu ada Tuhan yang ikut campur dalam setiap langkah kita, termasuk ketika kita memuali suatu usaha demikian tuturnya. (AR)

Tidak ada komentar