Header Ads

Masa Depan Adalah Kami

Penderita AIDS Tak Diisolasi, 11 Bulan 28 Pengidap, 6 Meninggal


PAMEKASAN – Meski menangani penderita AIDS, RSUD dr Slamet Martodirdjo tidak mengisolasi atau menyediakan kamar khusus. Kebijakan menormalisasi perawatan itu dilakukan karena mempertimbangkan sisi kemanusiaan penderita. Apalagi, penyakit mematikan tersebut tidak menular melalui udara, tapi melalui transfusi darah, hubungan seksual, dan jarum suntik. ”Penderita diperlakukan seperti pasien normal lainnya,” ungkap Konselor Voluntary Counseling Testing (VCT) dan Care Support Treatment (CST) RSUD Pamekasan, Puteri Qotrina Biyadhie.


Menurut Puteri Qotrina Biyadhie, khusus penderita yang sudah kronis lazimnya ditempatkan di ruang paviliun. Hal itu bukan bagian dari mengisolasi penderita, tapi untuk menghindari agar pasien tidak terjangkit penyakit lain. Sebab, penderita AIDS mudah tertular penyakit lain. ”Kalau pasien AIDS berkumpul dengan penderita tuberculosis (TBC), nanti akan terjangkit TBC,” imbuhnya.

Grafis Penderita AIDS Kab. Pamekasan

Dijelaskan, poli VCT di Pulau Madura yang teregistrasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI hanya RSUD dr Slamet Martodirdjo Pamekasan. Bahkan, terkoneksi dengan produsen obat-obatan yang menyediakan obat penyakit AIDS. ”Sudah teregistrasi secara nasional lho,” paparnya setengah berpromosi.

Puteri Qotrina Biyadhie mengungkapkan, jumlah penderita AIDS yang berobat di RSUD dr Slamet Martodirdjo Pamekasan sejak Januari–November 2014 sebanyak 28 orang. Dari puluhan penderita itu, enam di antaranya meninggal dunia. Sementara sisanya masih dalam pengawasan pihak rumah sakit. ”28 penderita itu terdiri dari 13 laki-laki dan 15 perempuan. Sementara enam orang yang meninggal diketahui mengembuskan napas terakhir di rumahnya,” ungkapnya.

Kepada Jawa Pos Radar Pamekasan, Puteri Qotrina Biyadhie mengungkapkan bahwa ada dua kecamatan yang tergolong darurat penyakit AIDS, yakni Kecamatan Pasean dan Palengaan. ”Warga di dua kecamatan tersebut terkategori rentan terjangkit penyakit AIDS. Sebagian besar penderita AIDS yang saya tangani adalah tenaga kerja Indonesia (TKI) atau tenaga kerja wanita (TKW),” pungkasnya. (mam/yan)

Tidak ada komentar