Header Ads

Masa Depan Adalah Kami

Miliki Keterbatasan Fisik, Hasiuddin Menjadi Kader Posyandu Terbaik Nasional

Hasiuddin, 60 tahun, menunjukkan kemampuannya menulis dengan kaki

PAMEKASAN - Keterbatasan fisik yang dimiliki Hasiuddin, 60, tidak membuatnya putus asa. Sebaliknya, pria asal Desa Lebbek, Kecamatan Pakong ini justru aktif menjadi kader posyandu sejak 1979. Atas pengabdiannya selama 35 tahun, jika tidak ada halangan besok (27/11) Hasinuddin akan bertemu dengan Menteri Kesehatan untuk menerima penghargaan sebagai kader posyandu terbaik nasional.

Pengabdian Hasiuddin sebagai kader posyandu dilakukan sejak dirinya masih berusia 25 tahun. Saat itu dia bertugas memahamkan para ibu hamil untuk memeriksakan kandungannya kepada bidan. Selain itu, mengajak para ibu hamil untuk mau melakukan persalinan di bidan.

Kala itu, Hasiuddin muda menjalankan tugasnya sebagai kader posyandu dengan mendatangi warga dari rumah ke rumah. Sejak pagi Hasiuddin sudah berkeliling menyusuri rumah-rumah warga. Tugas tersebut dijalankannya hingga sore.

Lelah. Rasa tersebut diakui sering menghinggapi Hasiuddin saat berkeliling menemui warga. Namun, sambutan warga yang hangat membuat semangatnya tak pernah padam. Hasiuddin mengatakan, tak jarang dirinya diajak untuk makan bersama oleh warga yang dia datangi. ”Tugas yang saya jalani bukanlah pekerjaan, melainkan hobi yang melekat pada jiwa saya,” ucap Hasiuddin.

Dalam menjalankan tugas, Hasiuddin tidak merasa kesulitan. Meski tidak memiliki tangan, Hasiuddin bisa mencatat angka kematian dan kelahiran bayi dengan baik. Pencatatan tersebut dilakukan dengan menggunakan kaki kanannya.

Pengabdian Hasiuddin pun membuahkan hasil. Satu per satu warga di Desa Lebbek mulai sadar pentingnya menjaga kesehatan saat hamil. Tak hanya itu, tradisi melahirkan tanpa bantuan bidan terus menurun. Warga mulai mendatangi pondok bersalin desa (polindes) saat hendak melahirkan.

Kepedulian Hasiuddin pada kesehatan tidak hanya ditunjukkan dengan pengorbanan tenaga dan waktunya. Namun, ayah yang sudah dikaruniai tiga anak itu rela menghibahkan tanah miliknya untuk dibangun polindes. Semua itu dia lakukan demi terwujudnya masyarakat yang sehat. ”Tanah saya ditempati polindes sejak 2002 hingga 2012 kemarin,” ucapnya.

Ditanya perasaannya akan mendapat penghargaan dari Menteri Kesehatan, Hasiuddin mengaku jika dirinya tidak pernah mengharapkan penghargaan. ”Saya menjalani tugas ini dengan senang dan penuh tanggung jawab. Tidak pernah mengharap penghargaan dari siapa pun, apalagi dari sekelas menteri,” tuturnya.

Selain dikenal sebagai kader posyandu, rupanya suami dari Hasbunah itu juga dikenal sebagai tokoh masyarakat. Setiap malam Hasiuddin mengajari anak-anak belajar membaca Alquran. Bahkan, dia juga tercatat sebagai ustad di lembaga pendidikan yang ada di dekat rumahnya.

Hasiuddin mampu menulis teks arab dengan baik. Bahkan, dia pun juga mampu menulis SMS dan menerima telepon menggunakan kakinya. Hasiuddin baru merasa kesulitan ketika hendak minum. Sebab, dia hanya bisa minum dari cangkir atau gelas yang ada gagangnya.

Meski sibuk menjadi kader posyandu dan guru ngaji, Hasiuddin tidak meninggalkan kewajibannya dalam menafkahi anak dan istrinya. Dia biasa menjual batu dan genting. ”Dalam membiayai kelaurga, bapak bekerja dengan menjual batu dan genting. Saya bangga dengan semangat suami saya,” ujar Hasbunah. (*/fei)

Tidak ada komentar