Header Ads

Masa Depan Adalah Kami

Pelaksanaan Sape Sono’ di Desa Batu Kerbuy, Pasean

PAMEKASAN - Selain sepasang sapi berpenampilan cantik, hal lain yang menjadi daya pikat penonton dari pelaksanaan kontes sape sono’ adalah keberadaan para sinden dan penari. Peran kedua wanita itu cukup penting untuk mendukung performa sapi saat melewati area-area khusus di hadapan tim juri. Dengan alunan musik tradisional dan suara sinden serta penari, hal itu diyakini membuat poin peserta semakin maksimal.

Lapangan Mandala yang terletak di Desa Batu Kerbuy Rabu pagi (5/11) disesaki warga Madura. Maklum saja, saat itu sedang berlangsung kontes sape sono’ se-Madura. Bagi warga Madura, lomba tersebut cukup bergengsi karena diikuti sekitar 170 pasang sapi yang berkualitas. Sape sono’ juga disebut kontesnya sapi elite alias sapi pilihan. Kemeriahan lomba semakin terlihat ketika alunan suara musik tradisional saronen mengawal ratusan pasang sapi yang menjadi kontestan sape sono’.

Meski terik matahari terasa panas, ribuan warga tampak antusias memadati lapangan yang terletak di Kecamatan Pasean itu. Selama ini kawasan pantai utara (pantura) Pamekasan memang dihuni oleh para pencinta sape sono’. Para penggemar sape sono’ maupun sapi kerap di Kabupaten Bangkalan, Sampang, dan Sumenep sebagian besar memang juga memilih berdomisili di kawasan pantura.

Berdasar pantuan Jawa Pos Radar Madura, sorot mata penonton ternyata tidak hanya tertuju pada sepasang sapi yang didandan apik. Tapi, juga memerhatikan penari dan sinden yang berada di belakang sapi atau persis di depan kelompok musik saronen. Para penari yang berpenampilan menor itu mengikuti langkah sapi yang dikirab mengelilingi lapangan. Meski sinar sang surya menyengat ubun-ubun, para penari berusaha tampil maksimal menghibur penonton.

Sesekali ada penonton yang memberi penari uang lelah alias nyawer. Rata-rata uang yang diterima penari Rp 1.000. Tapi jika dikumpulkan, dalam sehari para penari bisa mendapatkan uang minimal Rp 1 juta. Sebab, satu penonton kadang nyawer lebih dari dua kali. Bahkan, ada yang rela menyawer Rp 100 ribu. Sebagian besar yang memberikan saweran adalah pemilik sapi dan para kerabat serta pendukungnya. Tradisi saweran itu bisa dilihat penonton sejak melewati garis start sampai pintu gapura.

Ketika sudah berada di gapura, para penari harus berhenti menari dan tidak boleh ada lagi yang memberikan saweran. Sebab, saat itu para juri dan penonton konsentrasi melihat posisi kaki dan tubuh sapi. Setelah dinilai tim juri, baru sapi balik arah dan para penari bisa menari mengikuti alunan musik saronen. Saat itulah uang kembali bertebaran. Artinya, para penari dan sinden kembali panen rupiah. Saking banyaknya saweran, uang tersebut diserahkan ke pengawal yang ada di belakang. ”Nyawer itu sudah bagian dari lomba sape sono’ Mas,” ujar salah seorang warga, Hasim.

Sahni, salah seorang penari saat ditemui Jawa Pos Radar Madura menjelaskan, setiap kali tampil bisa meraup uang sampai jutaan. Selama ini dia memang menjadi langganan salah seorang pemilik sape sono’ yang sudah tersohor. ”Pemilik sapi minta saya dan sinden menghibur penonton saat sapi diarak. Uang saweran saya tabung untuk kebutuhan hidup dan sisanya untuk persiapan lomba sape sono’ berikutnya,” ujar wanita berusia 25 tahun asal Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep itu. (*/yan)

Tidak ada komentar