Header Ads

Masa Depan Adalah Kami

Bahasa Madura Kian Tersisih

Buku Ajar Tidak Memadai
 
MADURA – Kekhawatiran kalangan peneliti akan pudarnya bahasa Madura beralasan. Sebab, kini jarang anak didik baik tingkat PAUD, SD, SMP, maupun SMA yang menggunakan bahasa Madura dalam kegiatan pembelajaran. Bahkan, buku ajar bahasa Madura yang tersedia di perpustakaan sekolah sangat minim. Parahnya lagi, sejak KTSP 2006 dan Kurikulum 2013 diterapkan, buku ajar bahasa Madura hanya ada satu.

Memang, hampir semua sekolah mulai tingkat SD hingga SMA sudah dilengkapi perpustakaan. Tapi, di perpustakaan sekolah sulit ditemukan buku ajar bahasa Madura yang memadai. Hampir seluruh sekolah di Sampang hanya memiliki satu buku untuk kegiatan pembelajaran bahasa Madura, yakni Sare Taman terbitan tahun 1977.

Misalnya, di SDN Rabiyan 02, Kecamatan Ketapang, Sampang. Menurut Kepala SDN 02 Rabiyan Soengkowo Aji, bahan ajar bahasa Madura memang hanya satu, yakni buku berjudul Sare Taman. Kata dia, buku tersebut diletakkan dalam sebuah lemari di masing-masing kelas. Hal itu sebagai antisipasi agar buku tesebut tidak lekas rusak dan tidak dibawa pulang oleh siswa.

Kesaksian Soengkowi Aji, para siswa di sekolahnya sudah terbiasa menggunakan bahasa Indonesia dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari. ”Tapi, kami tetap berusaha mengajarkan bahasa Madura yang halus agar siswa terlatih dan mengerti tata krama berkomunikasi dengan sesama,” katanya, kemarin (27/1).

Minimal, sambung dia, tiap Jumat dan Sabtu di SDN Rabiyan 02 diterapkan wajib berbahasa Madura. ”Tapi sekarang mulai luntur,” ungkapnya. Menurut Soengkowo Aji, pelajaran bahasa Madura hanya diajarkan selama dua jam setiap minggunya. ”Lagi pula, literaturnya minim. Mau bagaimana lagi kalau aturannya seperti itu,” katanya.

Ketua Dewan Pendidikan Sampang Daud Bey menyatakan sangat miris melihat perkembangan bahasa Madura yang mulai ditinggalkan oleh generasi muda yang duduk di bangku SD hingga SMA. Padahal, bahasa Madura merupakan bagian dari jati diri dan karakteristik bangsa Indonesia yang Bineka Tunggal Ika.

Dewan Pendidikan Sampang, kata Daud Bey, terus berupaya melakukan terobosan dengan berupaya menciptakan sistem pembelajaran bahasa Madura yang mudah ditangkap anak usia dini. Menurut dia, lunturnya bahasa Madura karena para orang tua memakai bahasa Indonesia kepada anaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, perlu diciptakan sebuah metode pembelajaran baru agar bahasa Madura bisa diserap dan dipahami secara mudah oleh siswa PAUD maupun SD.

Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Kurikulum dan Pengembangan Mutu Dinas Pendidikan (Disdik) Sampang Arif Budiansor menjelaskan, waktu untuk mata pelajaran bahasa daerah Madura memang sangat terbatas. Siswa yang bisa mengenyam pelajaran bahasa daerah hanya di tingkat SD dan SMP dengan durasi dua jam dalam seminggu.

Sementara untuk tingkat SMA, pelajaran bahasa daerah memang tidak dimasukkan dalam kurikulum. Kecuali sekolah yang menerapkan Kurikulum 2013. ”Kita mengakui mata pelajaran bahasa Madura kurang mendapat perhatian serius karena dianggap bukan salah satu mata pelajaran penting. Selain itu, literaturnya sangat minim sekali,” katanya.

Lebih lanjut dijelaskan, masing-masing kabupaten di Madura memiliki rujukan sendiri-sendiri mengenai mata pelajaran bahasa Madura. Sumenep dengan bahasa Madura kosa kata Sumenep, Pamekasan dan Bangkalan juga demikian. Namun di Sampang, selama ini para guru mengajarkan siswanya memakai rujukan bahasa Madura dari Pamekasan.

Disdik melalui Kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Madura menggunakan rujukan bahasa Madura dari Pamekasan. ”Pamekasan yang jadi rujukan kami (Sampang, Red),” tukas Soengkowi Aji. (via/hud) (radarmadura.co.id)

Tidak ada komentar